Senin, 20 Januari 2014

Raungan Hati untuk Leo

Prolog
Pertemuan kita itu baik-baik saja. Sangat remaja yang masih dibumbui rasa malu. Padahal saat itu usia kita sudah 19 tahun. Usia yang rasanya tidak wajar untuk malu-malu kucing. Tapi sebanarnya tidak perlu ada rasa malu kalau sejak awal perasaan kita biasa-biasa saja. Lagi pula, kita bertemu bukan seperti adegan film yang bertemu secara tiba-tiba. Dia  pria yang kusuka dulu, mengenalkanmu denganku. Tapi aku yang menyukainya sadar akan beda yang begitu jauh.  Aku yang tak memungkinkan untuk memaksa yang sudah ku tau apa jawabnya. Disaat aku merasa seperti itu, kamu muncul dengan rasa pemalu untuk melihatku secara jelas membuatku  memberi ruang untukmu. Dan dari sekian gossip yang ada kalau kamu menyukaiku, aku sudah bisa memberi setengah ruang yang sebelumnya penuh untuk pria yang kusuka dulu. Tapi perjalanan kita tidak seperti difilm yang diiringi dengan rasa perhatianmu. Aku tidak melihat itu, sehingga aku berpikir yang mereka katakana tentang kamu adalah bohong.
Kamu tak menyukaiku. Buktinya kamu memiliki wanita untuk menemani hari mu. Dan aku tidak. Aku masih  sendiri terpenjara kebimbangan. Ketika saat itu kamu terlihat  cemburu saat aku dekat dengan dia. Sekarang untuk tahu apa kabarku saja, tidak. Semakin jauh berubah dan hubungan yang dulu dekat, kini malah terasa seperti sepasang musuh. Entah ada rasa apa, aku begitu emosi jika saja kamu ajak bicara. Terasa begitu marah jika kamu memperkenalkan pria untuk menjadi kekasihku. Seiringnya waktu berjalan, aku  sudah melepas perasaanku pada pria itu. Hinggga kini menjadi kosong, dan sepercik namamu mulai muncul. Kamu terasa begitu dingin. Terlebih kini kamu memiliki wanita, meski sudah putus tapi rasanya kamu begitu menyukainya. Semua postingan disosial media itu yang mengungkapkan kata hati untuknya.

Sekarang kita seolah musuh. Tidak. Aku yang menjauh dari kamu. Karena aku sudah memberi setengah hati untuk kamu. Kenapa setengah hati? Aku takut memberi semua, takut akan merasa sakit lebih dalam lagi seperti pria yang terdahulu. Pria yang mengenalkanmu denganku.  Kamu pria menyebalkan dan sangat menyebalkan. Entah seperti program dalam  otak, kalau bertemu denganmu. Darah begitu cepat mengalir  hingga keujung kepalaku.
Seperti wanita bodoh, menunggu perasaan yang sebenarnya tidak pernah ada kepastian dia menyukaimu atau tidak.  Seperti ada dorongan hati untuk tetap menunggunya.  Katanya itu suara kata hati yang menunjukkan jodohmu. Lalu kalau saja kamu jodohku. Kenapa terasa dingin saat ini

Part 1
Sudah dua jam aku duduk dihadapan laptop merah ini. Tapi belum ada satu kata pun mengotori lembar putih di Word. Yang aku lakukan hanya diam, dengan kedua tangan diatas keyboard  dan pandangan fokus kelayar.  Seolah raga dikamar, tapi jiwa melayang kian kemari. Sampai saat suara teriakan memanggil nama VITAAAAAAAAAA!!!! Terdengar.
“iaaaaa.” Sahutku.
aku hanya  menjawab dan kemudian hening lagi.
“VITAAAAAA!!!!” teriakan kedua.
Aku beranjak dengan santainya keruang tengah. Meraih kunci rumah. Kemudian mendekat dan membuka pintu.
“lama banget sih bukanya, hujan tau!” omel Eca.
“iaaaaa maaf. Aku lagi khusyuk bikin cerita.”  Jawab ku.
“alhhhhh kamu tuh emang hobi bikin orang darah tinggi. Sebelum teriakan sampe 8 oktaf, ga bakal didenger.” Gerutu Eca.
Aku  kembali kekamar dan duduk dihadapan laptop lagi. 
“Jadi ini cerita barunya??” ucap Eca yang mengintip “WOW amazing sekali, bagus lohh vit ceritanya.”
Aku  melirik Eca “ngejek?”
“enggak, bagus koq.” Cetus Eca  menjauh “saking bagusnya. Kasat mata tulisanmu itu.”
aku menghela napas,  menutup laptop dan beranjak ketempat tidur.
“cape ahhh,” ucapku sambil merebahkan badan.
“gayamu cape.” Ketus Eca  melempar handuk yang dipakainya mengeringkan rambut. “tulisan belum ada yang ditulis cape.”
“justru disitu capenya, cape mikir.”
“cari inspirasi makanya, biar bisa buat tulisan. Ia dipikir melulu, emang kamu pikir lagi ujian matematika apa?”
“ia ini lagi mau cari inspirasi Ca.” Jawabku seadanya.
“bengong gitu?”
“mimpi.”
Eca  membekap wajahku dengan bantal. “dasar!!”
“gila ngomong ama kamu tuhh. Udah, aku mau buat coklat panas” ucap Eca turun dari tempat tidur.
“pesen satu juga ya mbak.” Ucapku.


Aku tinggal bersama Eca, disebuah rumah yang tidak terlalu besar  tapi tidak terlalu kecil. Sebuah rumah dipinggiran kota  yang disewa pertahun. Setelah lulus kuliah, aku bekerja  disebuah Bank yang lumayan ternama dengan posisi sebagai Financial Consultan . aku tidak tinggal dengan orang tuaku lagi. Setelah lulus dan mendapat posisi itu, aku memutuskan untuk tinggal dengan Eca.

Hari ini sabtu, hari libur. Aku meregangkan semua otot badanku  seperti posisi saat Patrick  terlentang dimusim salju sambil menggerak-gerakan tangan dan kakinya membentuk cetakan diatas salju. Aku mengintip dari balik selimut yang tebal . Jendela sudah terbuka, harum parfum  begitu menyengat sudah bertebaran diruang kamar bernuansa soft pink. Harum  parfum  incanto shine, siapa lagi pemilik itu kalau bukan Eca. Bangun dan melihat jam dinding. jam 8  batin ku.
“Mau kemana Ca? pagi-pagi udah rapih begitu.” Tanya ku dengan wajah yang masih tak karuan berantakan.
“Main dong.” Sahutnya singkat tanpa menghentikan aktivitas make up.
“ Baru jam 8 pagi, cepet banget udah kelayaban.” Ucapku protes.
“Iaaaaa kan jadwalnya padat vit. Ryan mau ditemenin kondangan, abis itu  temenin dia belanja, terus malemnya kita pacaran.”
“sekali libur tuhhh dirumah, nonton dvd bareng, masak-masak, terus ke Mall.” Gerutuku sambil merapihkan tempat tidur.
“Minggu kemarin kan udah?”
“Apa?! Nonton dvd? Nonton dvd terus nyuruh ryan kesini. Sama aja aku yang fokus nonton, kamu pacaran.”
“Vit…..” ucap Eca dengan lembut bicara.
Eca mendekati, dia memutar badanku. Kedua tangannya berpangku dipundakku, lalu berkata.
“Jomblo ngenes. Aku pergi dulu yahhh…” ucapnya kemudian pergi dengan gembira.
“uuuuhhhhhhhhh!!”
Dengan segelas cappuccino hangat ditangan, aku melihat-lihat suasana siang yang teduh  dari teras rumah.  Memperhatikan kesibukan yang sudah dimulai sejak pagi-pagi  tadi oleh tetangga. Ada yang merapihkan taman kecil, ada yang berkumpul  mengelilingi pedagang ikan dan sayur matang dan sebagian lagi tak jauh denganku. Duduk diteras  sambil melihat-lihat. Tapi saat itu pandanganku berhenti  pada sebuah rumah tepat berhadapan dengan rumah yang kutempati.  Rumah yang dulu kosong.  Sekarang ada seorang wanita dan seorang anak balita keluar dari rumah itu. Wanita itu membuka gerbang rumahnya, lalu sianak keluar dengan gembiranya. Tak lama seorang pria keluar  dan hanya sampai batas gerbang langkahnya berhenti. Kemudian wanita itu mencium tangannya, lalu pergi bersama anaknya.
Aku memperhatikan seorang pria yang sepertinya aku kenal. Postur badannya dari kejauhan yang tidak begitu asing.  Dia seperti, Ardi. Pria masa lalu yang begitu membuat merana perasaan ini. Enggak batinku. Aku menolak memikirkan Ardi lagi dan beranjak dari teras.
“Vita….!” Seru seseorang memanggilku.
Aku menoleh. Ardi…. Batinku. Spontan hawa dingin begitu terasa merasuki pori-pori.
“A...Ardi?” jawabku sedikit kaku.
Entah apa rasanya, keringat dingin dan detak jantung yang kembali muncul setelah lama tidak terasa.
“emm, dari jauh aku liat kamu kayak kenal. Coba manggil, ternyata bener.” Ucapnya yang juga sedikit  gugup.
“ohhh.” Ucapku kaku. “emm duduk Di,..” ucapku kembali.
Meski terasa sangat kaku. Ardi mengikuti perintahku. Kami duduk dengan meja kecil sebagai pembatas.
“Udah lama disini vit?” Tanya Ardi.
“yahhh sekitar  2 tahun lebih lahhh.” Jawabku seadanya.
“lumayan lama juga yahh.”
Aku mengganggukan kepala. Seolah kehabisan kata-kata untuk diucapkan. “mau aku buatin minuman Di?”
“enggak usah vit.” Cegah Ardi.  Tanganya hampir menyentuh tanganku, dia menarik dengan cepat.
Ardi diam begitu  juga denganku yang sangat terlihat salah tingkah. Terasa sangat kaku untuk beberapa menit yang sudah berlalu. Tapi Ardi belum juga berkenan pergi.
“Tinggal sama siapa disini?” Tanya Ardi memecahkan keheningan.
“Eca.” Jawabku singkat.
Kemudian diam kembali.
Dengan perasaan yang tak karuan, dan wajah yang belum berani melihat Ardi secara keseluruhan. Aku mulai memberanikan diri bertanya.
“Rumah kamu yang didepan?”
“Iya,” jawab Ardi yang juga belum terlihat santai. “aku tinggal sama istriku.” Lanjutnya.
“Jadi udah nikah ya…” ucapku pelan.
“iya, udah dua tahun yang lalu.”
“dua tahun?!”
Belum lama dari kelulusan kamu nikah Di? Kenapa bisa aku ga tau. Batinku.
“tapi anak kamu kayak udah umur 4 tahun.” Ucapku kembali sebagai penyamaran dari rasa kaget.
“itu anak bude aku.”
“emmm, Di. Maaf aku  mau pergi keluar, kayaknya ngobrolnya next time aja dehh.”
“ohh, iya.”
Tanpa menunggu Ardi menghilang dari teras rumahku. Aku masuk kedalam rumah, mentup pintu dan membuka sedikit kain gordyn. Melihatnya yang belum juga pergi.  menoleh kebelakang lalu pergi menutup pintu gerbang rumahku denga perlahan.  Perlahan melihatnya menjauh, membuat ku tak kuasa menahan perasaan yang mulai mengingatkan pada kenangan masa lalu. Kenangan yang membangkitkan air mata lalu jatuh.
Batin seolah kembali disiksa diantara kenangan masa lalu dan masa kini mendapatinya sudah menikah. Dan sebuah kenyataan orang itu tinggal tepat didepan rumahku. Perasaan yang sangat melukai melebihi perasaan yang diduakan.  Rindu yang menyeruak keluar setelah lama dipendam. Tapi sakit yang bertambah mendapatinya sudah bersama kebahagiaanya. Kemudian ini menjadi aktivitas baruku, untuk menerima kenyataan masa laluku sudah memulai ceritanya dengan masa depannya.
Satu jam sudah aku duduk dibawah jendela. Menangisi tentang kenangan. Sampai mata yang sudah kecil, bertambah kecil dengan membesarnya kelopak mata. Aku beranjak dari tempat itu, menghapus air mata yang membekas bercampur dengan keringat  dengan kain gordyn.   Melihat jam yang terasa sangat lama berjalan. Baru jam 11 siang, dan libur masih lama. Tidak ada aktivitas yang dilakukan dan aku malas pergi keluar. Sampai pilihan terakhir adalah duduk diam didepan laptop merah. Hanya diam, tidak melakukan apa-apa. Diam Tanpa memikirkan apa-apa. Seperti sesuatu yang buruk sudah menjadi tamu siang tadi dan merusak semua. Aku ga semangat. Batinku. Kemudian meluncur butiran air dari kantung mataku. Menghapusnya lalu meluncur lagi.
“HEHHH!!! UDAHH JANGAN NANGIS MELULU!! MATA SAKIT TAU. PERIH!!!” kataku berteriak pada fotoku sendiri.
Ponselku bergetar. Satu pesan Blackberry Messanger.
PING!!!  
Pesan dari  Leo.
APA!!
Jawabku dengan emosi menekan tiap huruf.
Kenapa sih?  Jawab Leo.
Ia kamu kenapa? Kenapa bbm aku? Ada masalah?  Balas ku.
Ohh. Aku mau ke Jakarta vit. Kata Leo
Terus?? Balasku.
Tidak langsung dijawab. Satu menit, lalu dua menit dan sudah lama. Leo tidak membalasnya. Dia hanya membacanya. Dengan rasa kesal aku mengetik kembali pesan.
Kalau Cuma mau bilang mau kejakarta. Ga usah bbm aku! Emang aku siapa kamu? Emang aku nunggu kamu? Enggak!.
Pesan itu langsung dibaca Leo. Tapi dia tidak membalasnya.
Aku meletakan ponselku dengan kasar. Dan kembali menangis, menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Kali ini tangisan begitu terisak.
“kenapa sih, sekali aja kamu bisa bilang mau ketemu aku. Enggak Cuma bbm ga jelas terus ga bales lagi.”

Dengan tampilan rambut yang acakan, dan mata masih sangat ngantuk. Aku berjalan keluar dari kamar  membawa setumpuk baju yang akan ku cuci dengan mesin cuci. Menaruh deterjen tanpa takaran, kemudiaan menyalakannya lalu pergi beranjak menuju dapur. Mendekati lemari es, merahi air dingin dan meminumnya. Dinginnya air yang melewati tenggorokan mulai membangunkan mata yang setengah tertutup. 
Sudah hari minggu. Minggu pagi yang tidak seperti biasanya melihat-lihat dari teras rumah. Rasanya setelah tahu tetangga baruku adalah Ardi, aku enggan untuk terlihat didepan rumah. Seperti menghindar, tapi sebenarnya hal yang wajar. Untuk menghindari hal-hal yang aneh muncul dikepala. Seperti kenangan yang muncul, lalu mulai dekat kembali contohnya. Jadi, kebiasaan itu aku alihkan dengan menonton tv sebelum jam 8 nanti bersiap-siap berangkat greja. Kebetulan ada film Ranggers.
“Tumben ga gentayangan  diteras  Vit?” ucap  Eca yang muncul dari kamar.
“Ada Ranggers.”
“Sampai handphone bunyi terus ga didenger?”  cetus Eca meletakan ponsel dimeja lalu berjalan kedapur.
“Koq aku ga denger?” ucapku sambil merahi Blackberry.
“Iaaaa paling pura-pura ga denger.” Sahut Eca dari dapur.
Tiga panggilan tak terjawab, dan satu BBM masuk. Dari orang yang sama Leo.
Vit, aku udah dijakarta.
kamu greja hari ini?
Kamu tahu greja yang deket?
PING!!
PING!!  
Pesan dari Leo.
Aku abaikan pesan itu dengan meletakan ketempat asal Eca meletakan ponselku.
“Bales vit.” Ucap Eca dengan dua gelas kopi susu ditangannya.
“Ngapain? Biarin aja. Bukan siapa-siapa aku. Temen juga bukan.” Ketusku.
“musuh kan? Iaaaa dibales aja.”
Aku melirik sinis Eca. “Ga ada judulnya musuh ngobol begitu. Paling juga ujung-ujungnya ga bakal dibales. Buat apa?”
“Jadi ngarep dibales?” ucap Eca menggoda.
“Ihhh siapa yang ngarep? Secara manusiawi tuhh kalau dalam obrolan, ga ada istilah ngajak ngobrol tapi baru berapa kali. Udah ilang, terus diem.”
“ Emosi banget sih Ta? Heran, kalau ngomongin Leo emosi koq kayak mau demo dijalan.”
Aku diam.
“Leo tuh suka cerita sama aku. Gimana caranya buat kamu ga emosi terus sama dia. Dia tuh…”
Belum sempat melanjutkan kata berikutnya. Aku memotong ucapan Eca. “Udah ahhh. Mau mandi!” cetusku beranjak pergi.
“Huhhh dasar.” Terdengar suara Eca.

Dress pink selutut dengan motif bunga, high hells putih, Rambut kecolklatan yang diikat sembarang dan parfum paris Hilton. Aku menjadikan mereka satu paket untuk menemaniku ibadah minggu ini.  Melangkah dengan anggunnya. Menutup gerbang dengan pandangan Eca yang seolah mengantarkanku sampai keluar rumah. Aku tidak menggunakan kendaraan pribadi. Dengan upah kerja yang kuterima, bukannya tidak mampu membeli. Hanya saja, dengan kendaraan umum lebih menyenangkan. Menurutku.  Terlebih lagi jarak rumah dengan jalan raya tidak terlalu jauh. Butuh lima menit berjalan santai untuk bertemu mobil bis.
Sekitar setengah jam perjalanan dengan keadaan lalu lintas yang tidak begitu lancar untuk sampai diGereja. Dibis aku cenderung mendengarkan music dan online dihandphone. Tapi lebih sering memperhatikan profil akun seseorang baik di bbm atau di Facebook. Leo. Foto profil BBMnya sekarang bagus, wajahnya yang sudah berubah dari masa-masa kuliah dulu. Kini terlihat lebih dewasa dengan gaya khasnya yang keren itu. Memandangi foto profil Leo, membawa kembali pada satu ingatan dulu.
Malam saat aku tidak punya aktifitas apapun. entah apa yang membuat kami tiba-tiba terlibat obrolan yang asik dibanding hari biasanya.bukan obrolan mata bertemu mata. Tapi hanya obrolan pesan Blackberry.
Leo mengirimkan screenshoot tampilan pemberitahuan tentang orang yang aktif membuka profilnya.
üLiat tuhh kamu nomor satu. Pesannya.
üGa. Pede banget sih! Siapa juga yang sering liatin kamu. Balasku.
üUdah ngaku aja. Kamu suka kan sama aku?
üenggak. Bilang aja kamu yang suka tapi nuduh aku suka.
üihh udahlahhh ngaku aja vit.
Obrolan itu yang terus berulang sampai kadang bertengkar dan baikan. Kemudian bertengkar lagi.
Kami selalu terlibat obrolan melalui Blackberry messangger dibanding obrolan secara empat mata. Pertemuaan bisa dihitung saking jarangnya. Alasannya karena Leo yang tidak punya keberaniaan untuk melihatku secara langsung. Dia terlalu pemalu. Dia bilang aku melebihi dari monster. Tidak sekedar takut tapi benar-benar menakutkan sampai harus memiliki keberanian tingkat tinggi untuk menatapku langsung.

Aku turun dari bis. Dan Langsung masuk kedalam Greja dan ibadah dengan Khusyuk. Aku Kristen protestan. Kurang lebih satu jam untuk ibadah itu usai. Menarik nafas panjang saat bersama dengan jemaat lain keluar dari Greja.
(bersambung)