Prolog
Pertemuan kita
itu baik-baik saja. Sangat remaja yang masih dibumbui rasa malu. Padahal saat
itu usia kita sudah 19 tahun. Usia yang rasanya tidak wajar untuk malu-malu
kucing. Tapi sebanarnya tidak perlu ada rasa malu kalau sejak awal perasaan kita
biasa-biasa saja. Lagi pula, kita bertemu bukan seperti adegan film yang
bertemu secara tiba-tiba. Dia pria yang
kusuka dulu, mengenalkanmu denganku. Tapi aku yang menyukainya sadar akan beda
yang begitu jauh. Aku yang tak
memungkinkan untuk memaksa yang sudah ku tau apa jawabnya. Disaat aku merasa
seperti itu, kamu muncul dengan rasa pemalu untuk melihatku secara jelas
membuatku memberi ruang untukmu. Dan
dari sekian gossip yang ada kalau kamu menyukaiku, aku sudah bisa memberi
setengah ruang yang sebelumnya penuh untuk pria yang kusuka dulu. Tapi
perjalanan kita tidak seperti difilm yang diiringi dengan rasa perhatianmu. Aku
tidak melihat itu, sehingga aku berpikir yang mereka katakana tentang kamu
adalah bohong.
Kamu tak
menyukaiku. Buktinya kamu memiliki wanita untuk menemani hari mu. Dan aku
tidak. Aku masih sendiri terpenjara
kebimbangan. Ketika saat itu kamu terlihat
cemburu saat aku dekat dengan dia. Sekarang untuk tahu apa kabarku saja,
tidak. Semakin jauh berubah dan hubungan yang dulu dekat, kini malah terasa
seperti sepasang musuh. Entah ada rasa apa, aku begitu emosi jika saja kamu
ajak bicara. Terasa begitu marah jika kamu memperkenalkan pria untuk menjadi
kekasihku. Seiringnya waktu berjalan, aku
sudah melepas perasaanku pada pria itu. Hinggga kini menjadi kosong, dan
sepercik namamu mulai muncul. Kamu terasa begitu dingin. Terlebih kini kamu
memiliki wanita, meski sudah putus tapi rasanya kamu begitu menyukainya. Semua
postingan disosial media itu yang mengungkapkan kata hati untuknya.
Sekarang kita
seolah musuh. Tidak. Aku yang menjauh dari kamu. Karena aku sudah memberi
setengah hati untuk kamu. Kenapa setengah hati? Aku takut memberi semua, takut
akan merasa sakit lebih dalam lagi seperti pria yang terdahulu. Pria yang
mengenalkanmu denganku. Kamu pria
menyebalkan dan sangat menyebalkan. Entah seperti program dalam otak, kalau bertemu denganmu. Darah begitu
cepat mengalir hingga keujung kepalaku.
Seperti wanita
bodoh, menunggu perasaan yang sebenarnya tidak pernah ada kepastian dia
menyukaimu atau tidak. Seperti ada
dorongan hati untuk tetap menunggunya.
Katanya itu suara kata hati yang menunjukkan jodohmu. Lalu kalau saja kamu jodohku. Kenapa terasa
dingin saat ini
Part 1
Sudah dua jam aku duduk
dihadapan laptop merah ini. Tapi belum ada satu kata pun mengotori lembar putih
di Word. Yang aku lakukan hanya diam, dengan kedua tangan diatas keyboard dan pandangan fokus kelayar. Seolah raga dikamar, tapi jiwa melayang kian
kemari. Sampai saat suara teriakan memanggil nama VITAAAAAAAAAA!!!! Terdengar.
“iaaaaa.” Sahutku.
aku hanya menjawab dan kemudian hening lagi.
“VITAAAAAA!!!!” teriakan kedua.
Aku beranjak dengan santainya
keruang tengah. Meraih kunci rumah. Kemudian mendekat dan membuka pintu.
“lama banget sih bukanya, hujan tau!”
omel Eca.
“iaaaaa maaf. Aku lagi khusyuk
bikin cerita.” Jawab ku.
“alhhhhh kamu tuh emang hobi
bikin orang darah tinggi. Sebelum teriakan sampe 8 oktaf, ga bakal didenger.”
Gerutu Eca.
Aku kembali kekamar dan duduk dihadapan laptop
lagi.
“Jadi ini cerita barunya??” ucap
Eca yang mengintip “WOW amazing sekali, bagus lohh vit ceritanya.”
Aku melirik Eca “ngejek?”
“enggak, bagus koq.” Cetus Eca menjauh “saking bagusnya. Kasat mata tulisanmu
itu.”
aku menghela napas, menutup laptop dan beranjak ketempat tidur.
“cape ahhh,” ucapku sambil
merebahkan badan.
“gayamu cape.” Ketus Eca melempar handuk yang dipakainya mengeringkan
rambut. “tulisan belum ada yang ditulis cape.”
“justru disitu capenya, cape
mikir.”
“cari inspirasi makanya, biar
bisa buat tulisan. Ia dipikir melulu, emang kamu pikir lagi ujian matematika
apa?”
“ia ini lagi mau cari inspirasi
Ca.” Jawabku seadanya.
“bengong gitu?”
“mimpi.”
Eca membekap wajahku dengan bantal. “dasar!!”
“gila ngomong ama kamu tuhh.
Udah, aku mau buat coklat panas” ucap Eca turun dari tempat tidur.
“pesen satu juga ya mbak.” Ucapku.
Aku tinggal
bersama Eca, disebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi tidak terlalu kecil. Sebuah rumah
dipinggiran kota yang disewa pertahun. Setelah
lulus kuliah, aku bekerja disebuah Bank
yang lumayan ternama dengan posisi sebagai Financial Consultan . aku tidak
tinggal dengan orang tuaku lagi. Setelah lulus dan mendapat posisi itu, aku
memutuskan untuk tinggal dengan Eca.
Hari ini
sabtu, hari libur. Aku meregangkan semua otot badanku seperti posisi saat Patrick terlentang dimusim salju sambil
menggerak-gerakan tangan dan kakinya membentuk cetakan diatas salju. Aku
mengintip dari balik selimut yang tebal . Jendela sudah terbuka, harum
parfum begitu menyengat sudah bertebaran
diruang kamar bernuansa soft pink. Harum
parfum incanto shine, siapa lagi
pemilik itu kalau bukan Eca. Bangun dan melihat jam dinding. jam 8 batin ku.
“Mau kemana
Ca? pagi-pagi udah rapih begitu.” Tanya ku dengan wajah yang masih tak karuan
berantakan.
“Main dong.”
Sahutnya singkat tanpa menghentikan aktivitas make up.
“ Baru jam 8
pagi, cepet banget udah kelayaban.”
Ucapku protes.
“Iaaaaa kan
jadwalnya padat vit. Ryan mau ditemenin kondangan,
abis itu temenin dia belanja, terus malemnya
kita pacaran.”
“sekali libur
tuhhh dirumah, nonton dvd bareng, masak-masak, terus ke Mall.” Gerutuku sambil
merapihkan tempat tidur.
“Minggu
kemarin kan udah?”
“Apa?! Nonton
dvd? Nonton dvd terus nyuruh ryan kesini. Sama aja aku yang fokus nonton, kamu
pacaran.”
“Vit…..” ucap
Eca dengan lembut bicara.
Eca
mendekati, dia memutar badanku. Kedua tangannya berpangku dipundakku, lalu
berkata.
“Jomblo ngenes. Aku pergi dulu yahhh…” ucapnya
kemudian pergi dengan gembira.
“uuuuhhhhhhhhh!!”
Dengan
segelas cappuccino hangat ditangan, aku melihat-lihat suasana siang yang
teduh dari teras rumah. Memperhatikan kesibukan yang sudah dimulai
sejak pagi-pagi tadi oleh tetangga. Ada
yang merapihkan taman kecil, ada yang berkumpul
mengelilingi pedagang ikan dan sayur matang dan sebagian lagi tak jauh
denganku. Duduk diteras sambil
melihat-lihat. Tapi saat itu pandanganku berhenti pada sebuah rumah tepat berhadapan dengan
rumah yang kutempati. Rumah yang dulu
kosong. Sekarang ada seorang wanita dan
seorang anak balita keluar dari rumah itu. Wanita itu membuka gerbang rumahnya,
lalu sianak keluar dengan gembiranya. Tak lama seorang pria keluar dan hanya sampai batas gerbang langkahnya
berhenti. Kemudian wanita itu mencium tangannya, lalu pergi bersama anaknya.
Aku
memperhatikan seorang pria yang sepertinya aku kenal. Postur badannya dari
kejauhan yang tidak begitu asing. Dia
seperti, Ardi. Pria masa lalu yang begitu membuat merana perasaan ini. Enggak batinku. Aku menolak memikirkan
Ardi lagi dan beranjak dari teras.
“Vita….!”
Seru seseorang memanggilku.
Aku menoleh. Ardi…. Batinku. Spontan hawa dingin
begitu terasa merasuki pori-pori.
“A...Ardi?”
jawabku sedikit kaku.
Entah apa
rasanya, keringat dingin dan detak jantung yang kembali muncul setelah lama
tidak terasa.
“emm, dari
jauh aku liat kamu kayak kenal. Coba manggil, ternyata bener.” Ucapnya yang
juga sedikit gugup.
“ohhh.”
Ucapku kaku. “emm duduk Di,..” ucapku kembali.
Meski terasa
sangat kaku. Ardi mengikuti perintahku. Kami duduk dengan meja kecil sebagai
pembatas.
“Udah lama
disini vit?” Tanya Ardi.
“yahhh
sekitar 2 tahun lebih lahhh.” Jawabku
seadanya.
“lumayan lama
juga yahh.”
Aku
mengganggukan kepala. Seolah kehabisan kata-kata untuk diucapkan. “mau aku
buatin minuman Di?”
“enggak usah
vit.” Cegah Ardi. Tanganya hampir
menyentuh tanganku, dia menarik dengan cepat.
Ardi diam
begitu juga denganku yang sangat
terlihat salah tingkah. Terasa sangat kaku untuk beberapa menit yang sudah
berlalu. Tapi Ardi belum juga berkenan pergi.
“Tinggal sama
siapa disini?” Tanya Ardi memecahkan keheningan.
“Eca.”
Jawabku singkat.
Kemudian diam
kembali.
Dengan
perasaan yang tak karuan, dan wajah yang belum berani melihat Ardi secara keseluruhan.
Aku mulai memberanikan diri bertanya.
“Rumah kamu
yang didepan?”
“Iya,” jawab
Ardi yang juga belum terlihat santai. “aku tinggal sama istriku.” Lanjutnya.
“Jadi udah
nikah ya…” ucapku pelan.
“iya, udah
dua tahun yang lalu.”
“dua tahun?!”
Belum lama dari kelulusan kamu nikah Di?
Kenapa bisa aku ga tau. Batinku.
“tapi anak
kamu kayak udah umur 4 tahun.” Ucapku kembali sebagai penyamaran dari rasa
kaget.
“itu anak bude aku.”
“emmm, Di.
Maaf aku mau pergi keluar, kayaknya
ngobrolnya next time aja dehh.”
“ohh, iya.”
Tanpa
menunggu Ardi menghilang dari teras rumahku. Aku masuk kedalam rumah, mentup
pintu dan membuka sedikit kain gordyn. Melihatnya yang belum juga pergi. menoleh kebelakang lalu pergi menutup pintu
gerbang rumahku denga perlahan. Perlahan
melihatnya menjauh, membuat ku tak kuasa menahan perasaan yang mulai
mengingatkan pada kenangan masa lalu. Kenangan yang membangkitkan air mata lalu
jatuh.
Batin seolah
kembali disiksa diantara kenangan masa lalu dan masa kini mendapatinya sudah
menikah. Dan sebuah kenyataan orang itu tinggal tepat didepan rumahku. Perasaan
yang sangat melukai melebihi perasaan yang diduakan. Rindu yang menyeruak keluar setelah lama
dipendam. Tapi sakit yang bertambah mendapatinya sudah bersama kebahagiaanya.
Kemudian ini menjadi aktivitas baruku, untuk menerima kenyataan masa laluku
sudah memulai ceritanya dengan masa depannya.
Satu jam
sudah aku duduk dibawah jendela. Menangisi tentang kenangan. Sampai mata yang
sudah kecil, bertambah kecil dengan membesarnya kelopak mata. Aku beranjak dari
tempat itu, menghapus air mata yang membekas bercampur dengan keringat dengan kain gordyn. Melihat jam yang terasa sangat lama
berjalan. Baru jam 11 siang, dan libur masih lama. Tidak ada aktivitas yang
dilakukan dan aku malas pergi keluar. Sampai pilihan terakhir adalah duduk diam
didepan laptop merah. Hanya diam, tidak melakukan apa-apa. Diam Tanpa
memikirkan apa-apa. Seperti sesuatu yang buruk sudah menjadi tamu siang tadi
dan merusak semua. Aku ga semangat. Batinku.
Kemudian meluncur butiran air dari kantung mataku. Menghapusnya lalu meluncur
lagi.
“HEHHH!!!
UDAHH JANGAN NANGIS MELULU!! MATA SAKIT TAU. PERIH!!!” kataku berteriak pada
fotoku sendiri.
Ponselku
bergetar. Satu pesan Blackberry Messanger.
PING!!!
Pesan
dari Leo.
APA!!
Jawabku
dengan emosi menekan tiap huruf.
Kenapa sih? Jawab Leo.
Ia kamu kenapa? Kenapa bbm aku? Ada masalah?
Balas ku.
Ohh. Aku mau ke Jakarta vit. Kata Leo
Terus?? Balasku.
Tidak
langsung dijawab. Satu menit, lalu dua menit dan sudah lama. Leo tidak
membalasnya. Dia hanya membacanya. Dengan rasa kesal aku mengetik kembali
pesan.
Kalau Cuma mau bilang mau kejakarta. Ga usah
bbm aku! Emang aku siapa kamu? Emang aku nunggu kamu? Enggak!.
Pesan itu
langsung dibaca Leo. Tapi dia tidak membalasnya.
Aku meletakan
ponselku dengan kasar. Dan kembali menangis, menutup wajahku dengan kedua
telapak tangan. Kali ini tangisan begitu terisak.
“kenapa sih,
sekali aja kamu bisa bilang mau ketemu aku. Enggak Cuma bbm ga jelas terus ga
bales lagi.”
Dengan tampilan
rambut yang acakan, dan mata masih sangat ngantuk. Aku berjalan keluar dari
kamar membawa setumpuk baju yang akan ku
cuci dengan mesin cuci. Menaruh deterjen tanpa takaran, kemudiaan menyalakannya
lalu pergi beranjak menuju dapur. Mendekati lemari es, merahi air dingin dan
meminumnya. Dinginnya air yang melewati tenggorokan mulai membangunkan mata
yang setengah tertutup.
Sudah hari
minggu. Minggu pagi yang tidak seperti biasanya melihat-lihat dari teras rumah.
Rasanya setelah tahu tetangga baruku adalah Ardi, aku enggan untuk terlihat
didepan rumah. Seperti menghindar, tapi sebenarnya hal yang wajar. Untuk
menghindari hal-hal yang aneh muncul dikepala. Seperti kenangan yang muncul,
lalu mulai dekat kembali contohnya. Jadi, kebiasaan itu aku alihkan dengan
menonton tv sebelum jam 8 nanti bersiap-siap berangkat greja. Kebetulan ada
film Ranggers.
“Tumben ga gentayangan diteras
Vit?” ucap Eca yang muncul dari
kamar.
“Ada
Ranggers.”
“Sampai
handphone bunyi terus ga didenger?”
cetus Eca meletakan ponsel dimeja lalu berjalan kedapur.
“Koq aku ga
denger?” ucapku sambil merahi Blackberry.
“Iaaaa paling
pura-pura ga denger.” Sahut Eca dari dapur.
Tiga
panggilan tak terjawab, dan satu BBM masuk. Dari orang yang sama Leo.
Vit, aku udah dijakarta.
kamu greja hari ini?
Kamu tahu greja yang deket?
PING!!
PING!!
Pesan dari
Leo.
Aku abaikan
pesan itu dengan meletakan ketempat asal Eca meletakan ponselku.
“Bales vit.”
Ucap Eca dengan dua gelas kopi susu ditangannya.
“Ngapain?
Biarin aja. Bukan siapa-siapa aku. Temen juga bukan.” Ketusku.
“musuh kan?
Iaaaa dibales aja.”
Aku melirik
sinis Eca. “Ga ada judulnya musuh ngobol begitu. Paling juga ujung-ujungnya ga
bakal dibales. Buat apa?”
“Jadi ngarep
dibales?” ucap Eca menggoda.
“Ihhh siapa
yang ngarep? Secara manusiawi tuhh kalau dalam obrolan, ga ada istilah ngajak
ngobrol tapi baru berapa kali. Udah ilang, terus diem.”
“ Emosi
banget sih Ta? Heran, kalau ngomongin Leo emosi koq kayak mau demo dijalan.”
Aku diam.
“Leo tuh suka
cerita sama aku. Gimana caranya buat kamu ga emosi terus sama dia. Dia tuh…”
Belum sempat
melanjutkan kata berikutnya. Aku memotong ucapan Eca. “Udah ahhh. Mau mandi!”
cetusku beranjak pergi.
“Huhhh
dasar.” Terdengar suara Eca.
Dress pink
selutut dengan motif bunga, high hells putih, Rambut kecolklatan yang diikat
sembarang dan parfum paris Hilton. Aku
menjadikan mereka satu paket untuk menemaniku ibadah minggu ini. Melangkah dengan anggunnya. Menutup gerbang
dengan pandangan Eca yang seolah mengantarkanku sampai keluar rumah. Aku tidak
menggunakan kendaraan pribadi. Dengan upah kerja yang kuterima, bukannya tidak
mampu membeli. Hanya saja, dengan kendaraan umum lebih menyenangkan.
Menurutku. Terlebih lagi jarak rumah
dengan jalan raya tidak terlalu jauh. Butuh lima menit berjalan santai untuk
bertemu mobil bis.
Sekitar
setengah jam perjalanan dengan keadaan lalu lintas yang tidak begitu lancar
untuk sampai diGereja. Dibis aku cenderung mendengarkan music dan online
dihandphone. Tapi lebih sering memperhatikan profil akun seseorang baik di bbm
atau di Facebook. Leo. Foto profil BBMnya sekarang bagus, wajahnya yang sudah
berubah dari masa-masa kuliah dulu. Kini terlihat lebih dewasa dengan gaya
khasnya yang keren itu. Memandangi foto profil Leo, membawa kembali pada satu ingatan
dulu.
Malam saat aku tidak punya aktifitas apapun.
entah apa yang membuat kami tiba-tiba terlibat obrolan yang asik dibanding hari
biasanya.bukan obrolan mata bertemu mata. Tapi hanya obrolan pesan Blackberry.
Leo mengirimkan screenshoot tampilan pemberitahuan
tentang orang yang aktif membuka profilnya.
üLiat
tuhh kamu nomor satu. Pesannya.
üGa.
Pede banget sih! Siapa juga yang sering liatin kamu. Balasku.
üUdah
ngaku aja. Kamu suka kan sama aku?
üenggak.
Bilang aja kamu yang suka tapi nuduh aku suka.
üihh
udahlahhh ngaku aja vit.
Obrolan itu yang terus berulang sampai
kadang bertengkar dan baikan. Kemudian bertengkar lagi.
Kami selalu terlibat obrolan melalui
Blackberry messangger dibanding obrolan secara empat mata. Pertemuaan bisa
dihitung saking jarangnya. Alasannya karena Leo yang tidak punya keberaniaan
untuk melihatku secara langsung. Dia terlalu pemalu. Dia bilang aku melebihi
dari monster. Tidak sekedar takut tapi benar-benar menakutkan sampai harus
memiliki keberanian tingkat tinggi untuk menatapku langsung.
Aku turun
dari bis. Dan Langsung masuk kedalam Greja dan ibadah dengan Khusyuk. Aku
Kristen protestan. Kurang lebih satu jam untuk ibadah itu usai. Menarik nafas
panjang saat bersama dengan jemaat lain keluar dari Greja.
(bersambung)